berbagi pandangan...




Wahai Togog, Siapakah Sampean?



Oleh Awangun Busandi Suto



Ketika semua saran kebaikan sudah diucapkan, ketika semua pertimbangan baik dan buruk sudah disodorkan, ketika semua peringatan tentang kemungkinan buruk yang bakal terjadi telah dibeberkan, tetapi toh sang tuan hambeguguk makutha waton, nekat memaksakan kehendak – apa pun kehendak itu -- apa pula yang mesti diperbuat Togog? Diam dan berpasrah diri kepada Sang Sutradara Agung Kehidupan? Ya, begitulah kemungkinan yang diperbuat Togog, sang abdi Gendir Penjalin alias Cakil.

Dan, apakah Togog merasa sia-sia, merasa tak berarti, merasa tak berkontribusi apa-apa dalam penegakan nilai-nilai luhur kehidupan? Mungkin, sangat mungkin, dia memang merasa begitu. Namun toh, Anda tahu, lagi-lagi, dia memberikan saran dan pertimbangan baik-buruk, menyodorkan kenyataan apa adanya, kepada sang tuan. Dia tak pernah memberikan laporan asal tuan senang. Tidak pernah!

Namun, Anda pun tahu, Gendir Penjalin alias Cakil tetap melenggang, the show must go on, maju terus pantang mundur: hingga akhirnya menjemput maut di ujung keris ksatria (dari mana pun dan siapa pun -- yang menjadi representasi kebaikan, keluhuran, kesaktian).

Kini, siapakah Togog? Siapa pula Gendir Penjalin?

Anda tahu, Gendir Penjalin atau Cakil bisa siapa saja dan menjadi apa saja dalam kehidupan nyata, dalam kehidupan sehari-hari, di sini, di negeri ini. Dan, sebagai representasi kaum penguasa – yang via a vis, rai dha rai, secara diametral berhadap-hadapan dengan kalangan rakyat kebanyakan -- dia bisa saja anggota parlemen, direksi badan usaha milik negara, menteri, bahkan presiden.

Pilihan Kebijakan

Kini, dalam kapasitas sebagai anggota parlemen, sebagai direksi badan usaha milik negara, sebagai menteri, sebagai presiden – terlepas kelak terbukti apakah mempunyai kapabilitas sebagaimana dipersyaratkan sesuai dengan jabatan yang diemban atau tidak – dia acap kali memperlihatkan sikap hambeguguk makutha waton, melenggang sekehendak hati, tanpa memedulikan keinginan, impian, harapan kalangan rakyat kebanyakan. Ada jurang sedemikian dalam menganga antara harapan rakyat dan (praksis) kehidupan para penguasa.

Saat mereka menyatakan bertekun secara istikamah menegakkan keadilan, pada saat itulah hukum koyak-moyak: tajam ke bawah, tumpul ke atas. Ketika mereka menyatakan pasang badan di baris terdepan untuk memberantas korupsi, para koruptor berhasil menyelenggarakan (sesungguh benar menyelenggarakan) kaderisasi dan regenerasi sedemikian masif dan permisif. Ketika meminta rakyat hidup hemat, cermat, dan sederhana, pada saat itulah mereka seperti kesetanan membelanjakan uang untuk membeli apa saja – berebut kesempatan pada midnight sale yang eksklusif, saat wong cilik tertidur kelelahan dengan perut keroncongan.

Namun, dengarlah, dengar: Togog tetap menyodorkan pilihan kebijakan bersikap dan bertindak, dengan memberikan pertimbangan baik dan buruk, memberikan peringatan kemungkinan yang bakal terjadi. Dia tetap bersuara, tidak asal tuan suka. Dia bicara apa adanya, blakasuta, tanpa tedeng aling-aling. Meski dia tahu, omongannya tak bakal digubris.

Maka, sesungguhnya, dalam atmosfer kehidupan semacam itu, gambaran apakah yang memanifes, mewujud, dalam sosok “buruk rupa” Togog? Apakah itu kepastian ramalan, berdasar kearifan nenek moyang, bahwa omong apa adanya, berlaku dan bertindak jujur, pada suatu masa kelak menjadi sesuatu yang dipersepsi jelek, buruk, dan tak semestinya dilakukan? Karena itu, tampillah perlente, wangi, dan berkelas agar orang-orang percaya: Anda adalah pribadi bonafide dan tepercaya?

Bukankah itu makna unen-unen, ungkapan, ajining diri gumantung saka lathi, ajiningi raga gumantung saka busana? Benarkah, kini, bahwa harga diri kita tergantung pada omongan kita? Dan, penghargaan terhadap pribadi kita tergantung pada apa yang kita sandang? Tak ada kedalaman, yang merujuk ke kearifan, yang mencerminkan kerendahhatian dan sikap keserbaapaadanya? Jujur, adil, terbuka, penuh welas asih kepada sesama adalah nilai-nilai yang melenyap begitu saja? Dan Togog, siapakah sampean?





- Dimuat dalam rubrik “Pamomong” Suara Merdeka, Minggu, 4 November 2012, halaman 19.

0 Response to "berbagi pandangan..."

Post a Comment

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu.