JOGYA ~ puisi Hang WS






Jogya



Jogya bertanya padaku

kebajikan mana yang telah terampas

hingga tata krama menjadi asing

aku menjawab

sejauh anak anak

telah kehilangan kata kata ibunya

hingga tak mampu mengurai bahasa ibunya



Jogya bertanya padaku

sejak kapan anak anak kehilangan kata kata ibunya

aku menjawab

ketika tak lelo lelo ledhung berganti nina bobok

untuk menidurkan sang jabang bayi



Jogya kembali bertanya kepadaku

dapatkah yang telah hilang itu kembali lagi

aku menjawab

ya, saat nanti

ketika orang orang mampu menikmati wayang kulit semalam suntuk

tanpa merasa memperkosa diri sendiri.



Jogya menjadi putus asa dan menyimpulkan sendiri

ah..itu sama saja ketidak mungkinan



lantas,

Jogya dicaci

karena menyesak dengan polah kemewahan

harga dirinya tergadai disembarang tempat

untuk dijadikan ruang ruang kebisuan

tanpa nyali menyapa

rumah rumah berpagar kengkuhan

menghunjamkan peredu ceplok piring

yang dulu menyapa dideretan pinggir halaman rumah



Jogya dicaci

karena anak anak telah kehilangan keteduhan pohon pohon asam

berganti dengan deretan bingkai bingkai tawaran gula gula manis kemewahan

keteduhan yang dulu banyak memberikan tempat kehidupan

terjaga dengan santunan rasa

hingga kicau burung prenjak dan kehadiran kupu kupu didalam rumah

menjadi pertanda akan kedatangan tamu

atau menjadi rasa was was

tatkala burung kulik

menyayat diatas pucuk pohon

menjadi pertanda akan datangnya duka



Jogya dicaci

karena purnama tak lagi menemukan keceriaan anak anak

bermain dolanan bocah :



gotri legendri nogosari, ri

riwul iwal- iwul jenang katul, tul

tulen olen-olen dadi manten, ten

tenono mbesuk gedhe dadi opo, po

podheng mbako enak mbako sedeng, deng

dengklok engklak-engklok koyo kodok



tenono mbesuk gedhe dadi opo

tergurat dalam kesedihan purnama

tatkala dengklok engklak-engklok koyo kodok

menyanyikan simfoni tanpa makna

membuang hajad dusta dimana mana



Jogjapun mulai mengerti

tapi masih tidak peduli

hingga masih saja bertanya

tapi aku malah berkata

panjenengan telah banyak kehilangan

jangan sampai keteduhan ringin kurung ikut diruntuhkan

hingga panjenengan tak lagi punya keberadaban.



Imogiri, 2012


0 Response to "JOGYA ~ puisi Hang WS"

Post a Comment

Pijakilah Setiap yang Kau Baca dengan Komentar Manismu.