Lumpur, puisi Sitok Srengenge



LUMPUR



Masa kecilku tercipta dari lumpur sawah

Di sana tumbuh padi, palawija, dan pohon buah

Separuh cahaya cerlang

Selebihnya bayang-bayang



Kampungku dibelah jalan-jalan tanah

Jalan yang selalu menunggu pasir dan batu

Seperti teluk sunyi merindukan kapal singgah

Setelah menempuh pelayaran dari benua-benua jauh



Semak di belakang rumah memberiku kamar yang hangat

Aku berbagi kisah-kisah sedih bersama teman-temanku yang tak terlihat

Ibuku selalu berjaga karena di dalam tidurku kata-kata berlompatan

Selincah gelembung-gelembung minyak panas di penggorengan



Di dalam mimpiku sepasang remaja bersepeda ke sekolah di kota

Diantarkan jalan tanah seperti teluk sunyi mengirim buih ke cakrawala

Teman-temanku menggembalakan kambing seperti nabi-nabi tak dikenal

Mereka tak penah menangis dan meyakini lumpur sebagai airmata kekal



Lumpur yang memberi ibuku sebuah rumah tanpa pintu

Berdinding jingga keemasan terbuat dari endapan waktu

Di sana seluruh dongeng telah berakhir, kata-kata tak berlompatan lagi

Aku dilepas jalan sunyi seperti perahu yang mengarungi lautan kisahnya sendiri



Bengkel Teater

1985